Anak Tergadai Dengan Aqiqah, Apa Maksudnya?

Bagi sebagain orang masih bertanya – tanya tentang soal ini, anak tergadai dengan aqiqah sih maksudnya? simak lebih jauh yuk..   Anak Tergadai Dengan Aqiqah, Apa Maksudnya? Pada pembahasan tentang aqiqah, ada sebuah hadist yang cukup sering disinggung. Hadist tersebut berbunyi, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Dipotongkan (untuknya) pada hari ke-7, dicukur rambut (kepalanya), dan diberi nama (anaknya).” Al-Albani menyatakan hadits riwayat Ahmad ini sebagai hadits yang shohih . Bagian yang menarik adalah pada “setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya”. Bahkan di kalangan ulama, bagian ini terbagi ke dalam 3 pendapat yang berbeda. Sebagian mengaitkannya dengan syafaat, sebagian lagi dengan kenikmatan, dan sebagian lagi dengan gangguan syetan. Agar lebih jelas kita akan kupas seperlunya dengan uraian di bawah ini oleh Balqis Layanan Aqiqah Jogja. Pendapat pertama datang dari Imam Ahmad yang diriwayatkan oleh ulama tabi’in bernama Atha al-Khurasani. Sang Imam mengatakan bahwa bila sang anak tidak diberikan aqiqah, maka orang tua tak akan mendapat syafaat di akhirat (Ma’alim as-Sunan, 4/285). Akan tetapi pendapat itu berbeda dengan Mula Ali Qori, seorang ulama dari madzhab hanafi. Beliau mengatakan bahwa aqiqah dapat menjadi jalan keselamatan dari mara bahaya kehidupan. Bila sang orang tua tidak memberikan aqiqah, maka jaminan keselamatan atas anaknya akan tertahan. Selain itu, orang tua juga tidak akan secara sempurna merasakan kenikmatan atas keberadaan sang anak (Mirqah al-Mafatih, 12/412). Lain Imam Ahmad, lain lagi Mula Ali Qori, beda pula dengan pendapat ke-3, yakni datang dari Ibnul Qoyim. Ibnul Qoyim justru mengaitkan aqiqah dengan kekangan bangsa jin. Dalam Tuhfah al-Maudud, halaman 74, ia berpendapat bahwa setan sudah mengiringi sang bayi sejak lahir ke dunia dan akan senantiasa menghalangi untuk melakukan berbuat baik terlebih bagi akhiratnya. Maka dari itu, aqiqah akan menjadi jalan lepasnya sang bayi dari kekangan setan. Dengan ini, Ibnu Qoyim juga mengatakan bahwa syafaat tidak ada hubungannya dengan hubungan keluarga. Tak ada seorang pun yang mampu memberi syafaat kecuali yang dikehendaki Allah. Nah, demikianlah 3 pendapat ulama. Meski ketiga pandangan tidak sama, bahkan cenderung bertentangan, namun bukan berarti menghalangi kita dalam melaksanakan aqiqah. Semua tetap mengarah ke 1 titik, yakni hikmah dari ibadah sunnah bernama aqiqah.   Baca artikel terkait lainnya...

Read More

Siapa Saja Yang Boleh Makan Daging Aqiqah?

Apakah sobat BALQIS AQIQAH sudah tahu siapa saja yang boleh makan daging aqiqah? jangan penasaran ya karena di artikel ini sobat akan mendapatkan jawabannya. hehehe.   Siapa Saja Yang Boleh Makan Daging Aqiqah? Assalamualaikum sobat Balqis Aqiqah semua bagaimana kabar kalian? semoga selalu dalam keadaan sehat wal afiat. Nah, pada kesempatan kali ini saya ingin menulis artikel sederhana berkaitan dengan siapa yang diperbolehkan untuk menikmati menu / daging aqiqah? Bagi sobat yang sudah menikah dan memiliki anak tentu pernah melaksanakan ibadah aqiqah untuk anak – anaknya bukan? Nah, menu gulai, sate dan tongseng itulah yang saya maksudkan dengan menu aqiqah. Kalau nasi, buah, krupuk dan yang lainnya tidak masuk dalam pembahasan ini ya.. Dalam hal ini saya belum menemukan hadits yang secara jelas menyebutkan siapa saja yang diperbolehkan untuk makan daging aqiqah sehingga fatwa – fatwa ulama yang mu’tabar yang akan kami angkat. Setelah membaca beberapa literatur buku atau kitab yang membahas tentang soal distribusi menu aqiqah saya nukil dari salah satu kitab karya ulama besar yaitu kitab Minhajul Muslim karya Syaikh Jabir Al Jaza’iri. Lebih lanjut beliau mengatakan yang intinya kurang lebih adalah yang boleh menikmati menu atau daging aqiqah adalah ahlul bait, disedekahkan dan di hadiahkan. Nah, kita dapat menggali lebih jauh berkaita dengan ini yang dimaksud ahlul bait tentu saja keluarganya dari yang diaqiqahi yaitu ayah, ibu, anak – anaknya (yang aqiqahnya sudah dewasa dan ia sudah memiliki anak), kakak, adiknya, kakek dan neneknya mereka semua boleh ikut menikmati menu aqiqah. Adapun yang dimaksud dengan disedekahkan adalah menu aqiqah dapat diberikan kepada mereka yang secara ekonomi kurang beruntung seperti diberikan kepada anak – anak panti asuhan, anak – anak jalanan dan lain sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan dihadiahkan adalah menu aqiqah tersebut bisa diberikan kepada tetangga, saudara, sahabat, teman kerja dan lain sebagainya yang mungkin secara ekonomi sudah berkecukupuan dan bukan dari bagian ahlul bait. Ketika kita mengacu kepada hal ini artinya bebas siapa saja boleh ikut menikmati menu aqiqah. Waallahu alam. Baca artikel kami lainnya Hukum Aqiqah Yang Dilakukan Sebelum Hari...

Read More

Hukum Menggabungkan Aqiqah Dengan Qurban

Apakah sobat sudah tahu bagaimana hukum menggabungkan niat antara ibadah aqiqah dengan qurban?   Hukum Menggabungkan Aqiqah Dengan Qurban Assalmualaikum sobat BALQIS AQIQAH. Bagaimana kabar sobat semua hari ini? semoga selalu sehat, semangat dan tidak bosan – bosannya untuk selalu beramal sholeh. Nah, pada pagi ini dengan suasana langit mendung dan ditemani secangkir kopi exelso yang panas penulis ingin berbagi atikel yang berkaitan dengan bagaimana hukum menggabungkan 2 amalan yaitu ibadah aqiqah dan qurban? Pada artikel – artikel sebelumnya pernah penulis sampaikan bahwa hadits – hadits yang membahas tentang aqiqah tidaklah banyak sehingga fatwa ulama lebih kami kedepankan dibandingkan dengan pendapat  penulis yang sangat terbatas ilmunya, walaupun demikian penulis berharap ini akan menjadi amal sholeh yang terus mengalir pahalanya selama website www.BalqisAqiqah.com beroperasi. aamiin.. hehehe. Like and share kalau ingin dapat pahala yang sama, insyaallah. hehehe. Sebelum kita membahas lebih jauh tentang hal ini ada baiknya perlu penulis sampaikan hal ihwal ibadah keduanya. Aqiqah adalah ibadah yang dilakukan terkait dengan kelahiran seseorang sedangkan qurban atau udhhiyyah adalah ibadah yang dilakukan karena memasuki bulan Dzulhijjah lebih tepatnya memasuki tanggal 10, 11, 12, 13 bulan Dzulhijjah dan keduanya adalah sama – sama menyembelih hewan. Kembali pada pokok permasalah diatas yaitu hukum menggabungkan antara aqiqah dengan qurban. Dalam hal ini ada perbedaan ulama, ada yang mengatakan tidak boleh menggabungkan dan ada yang membolehkan. Diantara ulama yang tidak membolehkan menggabungkan adalah ulama malikiyyah , ulama syafi’iyyah dan salah satu dari pendapat imam Ahmad bin Hanbal. Lebih lanjut ulama al Haitami (ulama syafiyyah) mengatakan :“Apabila seseorang menyembelih 1 kambing diniatkan untuk aqiqah dan qurban maka tidakah dianggap keduanya, kerena maksud pelaksanaan dari kedua ibadah ini berbeda. Inilah pendapat yang lebih tepat”. Sedangkan yang membolehkan diantaranya adalah para ulama Hanafiyyah, Muhammad Ibn Sirin, Qotadah dan Hasan al-Bashri. Lebih jauh Hasan al bashri mengatakan :”Jika sang anak ingin disyukuri dengan qurban maka qurban tersebut bisa jadi satu dengan aqiqah“. Waallahu ‘alam bi al shawab. Demikian semoga bermanfaat. Baca artikel selanjutnya Siapa Saja Yang Boleh Makan Daging Aqiqah?...

Read More

Bolehkah Berhutang Untuk Aqiqah?

Anda penasaran dengan bagaimana hukum berhutang untuk ibadah aqiqah? Nah, disini anda akan memperoleh informasi tentang itu. Baca yuk..   Bolehkah Berhutang Untuk Aqiqah? Selaku penyelenggara jasa layanan aqiqah di Yogyakarta yang sudah hampir 10 tahun tentu tidak lepas dari berbagai macam pertanyaan para klien baik seluk – beluk tentang pelaksanaan aqiqah ataupun hukum – hukum yang berkaitan dengan ibadah ini tak terkecuali sebuah pertanyaan yang cukup sering yaitu bagaimana hukum orang yang berhutang untuk melaksanakan aqiqah anak – anaknya? Dikalangan masyarakat memang cukup santer informasi tentang tidak dibolehkannya berhutang untuk hal – hal yang tidak wajib sepeti aqiqah. Dalam Islam ada perbedaan pendapat tentang hukum aqiqah. Ada yang mengatakan wajib dan ada yang mengatakan sunnah. Insyaallah yang lebih kuat hukum ibadah aqiqah adalah sunnah muakkad. Dengan ini maka tidak sedikit kita akan jumpai orang yang mengatakan berapa harga kambingnya mas? saya ingin memberikan DP seharga kambingnya dulu biar untuk kambing aqiqah saya tidak berhutang dan sisanya akan saya bayar saat pengantaran menu. Hehehe. Padahal di Balqis Aqiqah kami memberikan layanan tanpa DP lho,,, tidak percaya? silahkan hubungi kami di 08180 273 1273 dijamin kambing tanpa prengus,, hehehe. sedikit prosmosi ya.. Nah, dari contoh di atas lantas bagaimana sejatinya hukum berhutang untuk aqiqah? Kaum muslimin yang saya hormati. Sebagai seorang muslim yang baik hendaknya memiliki perhatian dengan ajaran dan tuntunan sunnah sang Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan kita dituntut untuk menghidupkan syi’ar – syi’ar Islam secara umum termasuk syi’ar ibadah aqiqah. Bagi orang yang mempunyai kemampuan ekonomi hendaknya tidak menunda – nunda untuk melaksanakan ibadah ini. Sedangkan orang yang belum memiliki kemampuan saat ini maka diperbolehkan untuk berhutang kepada saudaranya dengan catatan dia memiliki sumber penghasilan yang pasti. Misalkan dia bekerja sebagai pengawai maka pada tanggal tertentu dia akan memperoleh gaji dan dengan gaji tersebut bisa untuk membayar hutang aqiqah. Beberapa ulama ahlus sunnah yang membahas hal ini adalah Imam Ahmad Ibn Hanbal –rahimahullah- beliau mengatakan:”Apabila dia (shahibul aqiqah) tidak memilki uang lantas berhutang kepada orang lain, maka aku memohonkan kepada Allah semoa Ia memberikan ganti untuknya karena ia telah menghidupkan sunnah – sunnah sang Nabi”. (Lihat kitab al-Mughni karya Ibnu Qudamah). Akan tetapi apabila ia tidak memiliki sumber pendapatan yang pasti hendaklah ia tidak berhutang karena akan memberikan mudharat kepada dirinya dan orang yang memberikan hutang padanya. (lihat kita Kasyyaf karya Mansyur Ibn Yunus al-Bahuti). Demikian artikel berkaitan dengan bolehkan berhutang untuk aqiqah? semoga bermanfaat. Wallahu ‘alam. Baca artikel terkait lainnya Hukum Menggabungkan Aqiqah Dengan...

Read More

Siapa Yang Mengaqiqahi Hasan Dan Husain Cucu Rasulullah?

Siapa yang mengaqiqahi Hasan dan Husain cucu Rasulullah? kenapa yang mengaqiqahi bukan ayahnya yaitu Ali Bin Abi Thalib? baca yuk..   Siapa Yang Mengaqiqahi Hasan Dan Husain Cucu Rasulullah? Sahabat yang budiman. Sebagai seorang muslim tentu kita sangat mengenal sosok manusia agung yaitu Rasulullah shallahu alaihi wa sallam dan juga orang – orang yang masuk dalam garis keluarga beliau contohnya adalah al Hasan dan al Husain. Al Hasan dan al Husain –semoga Allah meridhai keduanya– adalah cucu kesayangan Rasulullah dari keturan Ali Ibn Abi Thalib dan Fathimah Binti Muhammad Rasulillah. Mereka adalah ahlu bait Nabi yang harus kita hormati dan kita muliakan sesuai kedudukannya tanpa berlebih – lebihan dan kita berkeyakinan bahwa keduanya telah dijamin oleh Allah sebagai penghuni syurga. Yang akan kami angkat disini bukanllah sepak terjang beliau berdua yang luar biasa untuk Islam akan tetapi yang hendak penulis sampaikan adalah tentang siapa yang mengaqiqahi al Hasan dan al Husain? Ada salah satu riwayat dari jalur shahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu yang mengatakan : Bahwa Rasulullah shallahu alaihi wa sallam mengaaqiqahi Hasan dan Husain masing – masing dengan satu ekor domba“. (Hadits Riwayat Abu Dawud). Syaikh Nashiruddin Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih akan tetapi hadits yang menyebutkan dengan dua ekor kambing itu lebih shahih. Perihal ini sudah dijawab oleh salah satu ulama dari kalangan syafi’iyyah yaitu al Syarbini –semoga Allah merahmati beliau-. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa ada kemungkinan hadits diatas adalah perintah Rasulullah kepada orang tuanya (Ali Bin Abi Thalib) untuk mengaqiqahi kedua anaknya dengan dua ekor kambing, atau juga dimungkinkan Rasulullah yang memberikan kambing kepada Ali untuk mengaqiqahi cucunya, atau juga masih dimungkinkan Rasul sendiri yang mengaqiqahi al Hasan dan al Husain karena keduanya menjadi tanggung jawab nafkah beliau dikarenakan kehidupan Ali dan Fathimah saat itu masih belum berkecukupan. Intinya adalah yang pertama kali yang memiliki tanggungan aqiqah adalah orang tuanya dan kalaulah orang tuanya belum memiliki kemampuan maka sang kakek dapat menghadiahkan kambing ataupun dana untuk mengaqiqahi cucunya. Waallahi ‘alam bi alshawab. Baca artikel terkait lainnya Hikman Aqiqah  ...

Read More

Siapa Yang Harus Menanggung Biaya Aqiqah?

Siapa yang harus menanggung biaya aqiqah? apakah harus orang tua dari sang anak atau bahkan orang lain pun bisa? silahkan baca artikel ini untuk menemukan jawabannya.   Siapa Yang Harus Menanggung Biaya Aqiqah? Aqiqah adalah salah satu ibadah penting yang dilaksanakan oleh seorang muslim terkait dengan kedatangan sang buah hati di dunia ini. Lantas siapakah yang mempunyai hak untuk mengaqiqahkan anak? Dalam pembahasan ini tidak ada dalil tegas yang menyatakan bahwa orang tua wajib menanggung biaya aqiqah anaknya sehingga yang akan kami angkat adalah pendapat ulama fiqih. Menurut sebagian ulama syafi’iyyah mengatakan bahwa yang harus menanggung biaya pelaksanaan aqiqah adalah orang tua yang menanggung nafkah dari anak tersebut. Jadi orang yang tidak menanggung nafkah anak maka tidak dituntut untuk menanggung biaya aqiqah kecuali atas izin orang yang menanggungnya, yaitu orang tua. Untuk mendalami soal ini anda bisa merujuk kepada kita al maushuah al fiqhiyya. Di lain kasus misalkan anak tersebut diasuh atau diadopsi oleh orang lain entah itu masih ada kerabat atau bahkan orang yang tidak ada hubungan darah dalam keluarga maka orang yang mengasuh itulah memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan aqiqah anak tersebut. Karena status orang tua yang mengadopsi adalah penanggung nafkah. Menurut Imam Ahmad Ibn Hanbal mengatakah bahwa pelaksanaan ibadah aqiqah anak itu menjadi kewajiban sang ayah kecuali sang ayah meninggal duni sehingga tidak memungkinkan untuk melaksanakan aqiqah untuk anak –  anaknya. Adapun Ulama as Shan’ani rahimahullah mengatakan: “Bahwa aqiqah itu menjadi kewajiban yang dibebankan kepada sang pemberi nafkah bagi sang bayi”. Hal ini wajar jika ada sedikit perbedaan dikarenakan dalam hadits tentang aqiqah disebutkan dengan redaksi umum yaitu tudzbahu ‘anhu artinya disembelihkan untuknnya. Ketika redaksi disebutkan “disembelihkan” maka yang penting adalah menyembelih kambing, dan yang melakukan siapa saja boleh artinya sah saja sekalipun orang yang menanggung biaya aqiqah orang lain bukan si penanggung nafkah. Waallahu alam bi al-shawab. Baca artikel terkait lainnya Siapa Yang Mengaqiqahi Hasan Dan Husain Cucu Rasulullah?...

Read More