Anak Tergadai Dengan Aqiqah, Apa Maksudnya?

Posted by on November 11, 2017 | 0 comments

Bagi sebagain orang masih bertanya – tanya tentang soal ini, anak tergadai dengan aqiqah sih maksudnya? simak lebih jauh yuk..

 

Anak Tergadai Dengan Aqiqah, Apa Maksudnya?

anak tergadai dengan aqiqah apa maksudnya

Anak Tergadai Denga Aqiqah, Apa Maksudnya?

Pada pembahasan tentang aqiqah, ada sebuah hadist yang cukup sering disinggung. Hadist tersebut berbunyi, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Dipotongkan (untuknya) pada hari ke-7, dicukur rambut (kepalanya), dan diberi nama (anaknya).” Al-Albani menyatakan hadits riwayat Ahmad ini sebagai hadits yang shohih . Bagian yang menarik adalah pada “setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya”. Bahkan di kalangan ulama, bagian ini terbagi ke dalam 3 pendapat yang berbeda. Sebagian mengaitkannya dengan syafaat, sebagian lagi dengan kenikmatan, dan sebagian lagi dengan gangguan syetan. Agar lebih jelas kita akan kupas seperlunya dengan uraian di bawah ini oleh Balqis Layanan Aqiqah Jogja.

Pendapat pertama datang dari Imam Ahmad yang diriwayatkan oleh ulama tabi’in bernama Atha al-Khurasani. Sang Imam mengatakan bahwa bila sang anak tidak diberikan aqiqah, maka orang tua tak akan mendapat syafaat di akhirat (Ma’alim as-Sunan, 4/285). Akan tetapi pendapat itu berbeda dengan Mula Ali Qori, seorang ulama dari madzhab hanafi. Beliau mengatakan bahwa aqiqah dapat menjadi jalan keselamatan dari mara bahaya kehidupan. Bila sang orang tua tidak memberikan aqiqah, maka jaminan keselamatan atas anaknya akan tertahan. Selain itu, orang tua juga tidak akan secara sempurna merasakan kenikmatan atas keberadaan sang anak (Mirqah al-Mafatih, 12/412). Lain Imam Ahmad, lain lagi Mula Ali Qori, beda pula dengan pendapat ke-3, yakni datang dari Ibnul Qoyim.

Ibnul Qoyim justru mengaitkan aqiqah dengan kekangan bangsa jin. Dalam Tuhfah al-Maudud, halaman 74, ia berpendapat bahwa setan sudah mengiringi sang bayi sejak lahir ke dunia dan akan senantiasa menghalangi untuk melakukan berbuat baik terlebih bagi akhiratnya. Maka dari itu, aqiqah akan menjadi jalan lepasnya sang bayi dari kekangan setan. Dengan ini, Ibnu Qoyim juga mengatakan bahwa syafaat tidak ada hubungannya dengan hubungan keluarga. Tak ada seorang pun yang mampu memberi syafaat kecuali yang dikehendaki Allah. Nah, demikianlah 3 pendapat ulama. Meski ketiga pandangan tidak sama, bahkan cenderung bertentangan, namun bukan berarti menghalangi kita dalam melaksanakan aqiqah. Semua tetap mengarah ke 1 titik, yakni hikmah dari ibadah sunnah bernama aqiqah.

 

Baca artikel terkait lainnya